Close
Bertabur Bintang, Piknik di Pantai Pangi

32 Km, Pantai Pangi Bertabur Bintang #RideWithThole

Lega rasanya bisa kembali menghirup udara segar, jauh dari hiruk pikuk Ibu Kota. Karena memang semenjak perjalanan ke TNBTS bersama Alfandika dan Fajar kemarin, saya belum melakukan perjalanan lagi. Sempat sih ke Kota Cirebon, tapi itupun juga karena ada kerjaan, bukan semata untuk memanjakan diri. 😀

Perjalanan kali ini tidak bisa dibilang dadakan sih. Tapi, bukan juga perjalanan dengan perencanaan yang baik hahaha. Berawal dari sebentar lagi masa liburan si Ekky dan si Rahfal akan habis, kami akhirnya merencanakan kemping ceria di pantai. Pemilihan Pantai Pangi juga masih antara iya dan tidak sampai detik-detik terakhir wkwkwk. Rencana memang sudah lumayan lama satu minggu-an lah tapi baru bisa kumpul dan packing barang-barang H-sekian jam 😅. Ditambah Alfandika baru sampai dari Jogja tepat di hari-H kami merencanakan berangkat.

Kenapa Memilih Pantai Pangi?

Setelah selesai packing di rumah, kami memastikan kembali, mau ke pantai mana kami ini 😅. Akhirnya, kami menyepakati untuk menuju Pantai Pangi karena beberapa alasan. Yang pertama, karena kami bisa membawa kendaraan hingga bibir pantai. Jadi, kami bisa lebih tenang ketika berkemah di sana. Kedua, karena banyak pohon di bibir Pantai Pangi, yang bisa kami gunakan untuk berteduh dan juga membentangkan hammock di sana.

Rute Menuju Pangi

Sebenarnya bisa dibilang rute menuju Pangi juga jadi salah satu alasan kami memilih pantai ini untuk kemping ceria. Karena, rute menuju ke sana itu cukup mudah. Dari kota Blitar, kalian hanya perlu mengikuti jalan ke arah Pantai Tambakrejo, karena pantai yang satu ini merupakan pantai terkenal di Blitar :D. Jadi, petunjuk arah menuju ke sana termasuk lengkap.

Setelah kalian sampai pertigaan dusun Puringan, nanti akan ada petunjuk arah menuju ke Goa Umbul Tuk. Silakan kalian belok ke kanan mengikuti petunjuk arah tersebut. Sesampainya di perempatan Kantor Desa Tumpak Kepuh, bila mana ingin ke Goa Umbul Tuk itu ke kanan, kalian lurus saja, nanti akan ada pos masuk Pantai Pangi.

Biaya Masuk Pantai Pangi

Pertama kali main ke Pantai Pangi dulu, biaya masuknya masih gratis. Para penjual makanan juga masih sedikit, hanya ada 1 warung saja kala itu. Orang-orang yang ke sini masih sebagian besar nelayan yang pergi mencari ikan. Kurang lebih mulai tahun 2015, masuk Pantai Pangi dikenakan biaya Rp 8.000,- setiap orang.

Oh iya, sekedar informasi juga, tidak setiap hari ada yang menjaga pintu masuk Pantai Pangi. Menurut informasi pedagang-pedagang yang berjualan di pinggir pantai, penjaga pintu masuk kerap ada hanya ketika hari Sabtu dan Minggu saja. Karena, pada hari itu ramai pengunjung hehehe. Dan kebetulan ketika kami kemarin ke sana pada hari Jumat, tidak ada penjaga, jadi ya masuknya gratis hehe.

Bersantai di Pantai

Yak, agenda kami kali ini memang lebih bersantai di pantai. Setelah sampai, kami langsung bersiap mendirikan tenda, mengingat sang surya sudah bersiap mengundurkan diri. Kami tidak mau mengambil resiko mendirikan tenda dalam keadaan gelap gulita.

Bersiap mendirikan tenda
Horeee tenda sudah berdiri, saatnya kita….

Setelah tenda selesai didirikan, mumpung masih ada sisa-sisa cahaya matahari, kami mulai mengumpulkan kayu dan dedaunan kering untuk digunakan memasak daging. Seperti foto tersebut, Ekky dan Dika mempersiapkan api sedangkan Rahfal mulai memasak nasi untuk kami.

Acara berikutnya, ya masak-masak sembari sesi bercerita. Cerita random banget di sini. Mulai dari cerita masalah pendidikan, hingga tidak lupa masalah asmara hahahah. Biarpun ini semua laki-laki bukan berarti tidak memiliki masalah asmara, bukan?

Manusia cuman bisa BERHARAP, Allah yang menentukan.

Ekky 2019 ( Pujangga Balen)

Tak terasa hari semakin gelap, makanan pun sudah mulai habis. Kami bersiap membereskan alat-alat untuk ditata di dalam tenda. Nah karena Dika baru tadi pagi banget datang dari Jogja, dia yang pertama kali langsung tidur lelap ketika kami bertiga masih memasuk-masukkan peralatan ke dalam tenda.

Beruntungnya Ekky dan Rahfal saat itu. Karena langit masih cerah, saya tawarkan ke mereka untuk foto di depan tenda. Dan yaa, seperti berikut ini hasil foto malam itu.

Malam yang Panjang

Tidak berhenti di situ, malam di Pantai Pangi masih panjang hahaha. Ternyata malam harinya hujan deras saudara-saudara! Pukul 02.00 saya terbangun karena mendengar hujan deras. Tapi, karena masih mengantuk berat (kami selesai foto-foto kurang lebih pukul 23.30) saya hanya mengecek tas kamera saja. Setelah yakin bahwa kamera aman, saya melanjutkan tidur. Kurang lebih pukul 02.40 saya kembali terjaga karena merasakan ada yg basah di kaki saya. Dan ternayata, perasaan was-was saya terjadi. Akibat derasnya hujan, air masuk ke dalam tenda. Dan di saat ini pun, tidak ada teman-teman yang bangun :)). Akhirnya saya kembali merapikan tas-tas dan tenda yang terterpa angin malam itu.

Setelah memastikan semua baik-baik saja, saya bersiap melanjutkan tidur. Tapi, karena perasaan was-was akhirnya saya tidak bisa tidur walau berusaha memejamkan mata lagi hahaha. Hingga sang mentari mulai menampakkan sinarnya.

Akhirnya pagi pun tiba. Matahari mulai menunjukkan senyumnya, kami melanjutkan dengan kegiatan ngopi, dan memasak sisa-sisa logistik semalan sebelum berberes untuk pulang. Yah memang terasa cepat waktu berlalu malam itu. Semoga masih diberikan umur panjang untuk bisa bertemu dan bercengkrama di lain waktu ya teman 🙂

#RideWithThole

Tulisan ini merupakan bagian dari perjalanan saya, yang saya lakukan bersama motor kesayangan saya, Si Thole. Maka dari itu, jika kalian melihat judul dengan format X Km dan dengan tagar #RideWithThole, berarti perjalanan yang saya lakukan tersebut sejauh X Km dari rumah. Ke depan, saya akan banyak menulis perjalanan saya bersama Si Thole. Jadi, sering-sering main ke sahabatransel.com ya. Oh, ya. Hingga tulisan ini diterbitkan, saya belum sempat menulis tentang Si Thole. Semoga di tulisan ke depan, saya bisa memperkenalkan kalian dengan kawan setia saya yang satu ini hehehe. ^_^

Tinggalkan Balasan